Gangsaran Tindak Kuangan Daya: Penyimpangan Hierarki Tri Kaya Parisudha
by Pande Kadek Juliana
Om SwastyastuTau kan istilah ini? Atau baru dengar? Yuk kita bahas sedikit. Gangsaran tindak, kuangan daya adalah ungkapan tradisional Bali (sesonggan) yang menggambarkan kondisi ketidakseimbangan antara impulsivitas fisik dan ketajaman rasio, di mana dorongan untuk mengeksekusi tindakan mendahului kecermatan analisis mendasar.
Ungkapan ini menunjuk pada keadaan di mana keterampilan atau kebiasaan melangkah (tindak) melaju terlalu cepat, sementara persediaan akal dan strategi (daya) belum memadai untuk menopang konsekuensi dari langkah tersebut.
Dalam alam pikir masyarakat Hindu, perbuatan manusia diatur oleh tatanan Tri Kaya Parisudha (tiga penyucian diri): Manacika (berpikir yang benar), Wacika (berkata yang benar), dan Kayika (berbuat yang benar). Urutan ini hirarkis: pikiran adalah hulu (atman/ide), sedangkan tindakan adalah hilir (laksana).
Fenomena gangsaran tindak, kuangan daya menandakan terjadinya penyimpangan hierarki tersebut, di mana Kayika (tindakan) mendominasi sebelum Manacika (pikiran) selesai memproses situasi.
Tindakan tanpa daya juga menandakan hilangnya Wiweka Jnana, yaitu kemampuan intelek untuk memilah antara: Patut (tepat/benar) dan Tan Patut (tidak tepat/salah). Hita (membawa kebaikan/manfaat) dan Ahita (membawa keburukan/kerugian).
Intine ton, satonden malaksana, satonden mamunyi, pinehin malu sekenang, resiko jangan diabaikan.
#suluhhindu


No comments:
Post a Comment
Wusan simpang, elingang komentarnyane ngih..! Ring colom FB ring sor taler dados. ^_^ sharing geguratane ring ajeng dados taler.