Sane dumun Sutha Abimanyu naenin nyurat conto soal ulangan basa Bali kelas 1 semester II. Nah ring galah sane becik puniki pacang lanturang titiang antuk Conto Soal Ulangan Bahasa Bali Kelas 1 Semester I. Dumogi conto soale puniki prasida kanggen conto rikala ngaryanin soal ring maraga guru pangajian lan pinaka soal latihan ring angganing sisya.
Bahasa
Bali merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang masih hidup dan
terpakai dalam konteks komunikasi lisan dan tulis bagi masyarakat Bali sampai
sekarang. Bahasa Bali
sekarang dikenal dengan sebutan Bahasa Bali Kepara (Baru/modern). Istilah
kepara dalam bahasa Bali artinya ketah, lumrah, biasa yang dalam bahasa
Indonesia bermakna ‘umum’. Bahasa Bali Kepara mengenal dua jenis ejaan yaitu
ejaan dengan huruf Bali dan huruf latin.
Bahasa
Bali Kepara juga disebut dengan bahasa Bali Modern. Penamaan bahasa Bali modern ini karena bahasa Bali Kepara
itu tetap berkembang pada zaman modern seperti sekarang ini. Kehidupan
dan perkembangan bahasa Bali Modern yang juga merupakan sarana dan wahana
kehidupan kebudayaan, agama, dan adat istiadat masyarakat etnis Bali yang
berkelanjutan sampai sekarang.
Bahasa Bali Modern juga mengenal sistem anggah-ungguhing basa atau sor-singgih (terutama bahasa Bali
dataran) karena dapat pengaruh dari Jawa. Pada zaman kerajaan, raja-raja Bali
sering ke Jawa, hubungan Jawa-Bali sangat rapat sehingga kebudayaan Jawa
(Hindu) sangat besar pengaruhnya terhadap kebudayaan Bali (Hindu). Pada zaman
kerajaan, sistem pemakaian sor-singgih bahasa Bali sangatlah tertib dilaksanakan pada
pelapisan masyarakat Bali, kelompok Tri
Wangsa berkomunikasi kepada kelomok bawah (sudra) diperkenankan memakai bahasa Bali ragam rendah. Sebaliknya,
kelompok sudra berkomunikasi kepada
kelompok Tri Wangsa menggunakan
bahasa Bali ragam tinggi (halus).
Gedong Kirtya kawangun ring Singaraja olih jadma saking Welanda mawasta L.J.J Caron, sané rauh ka Bali matemu sareng para raja lan sulinggih ring Bali. Patemoné punika nyangkepang indik kasenian sastra utawi lontar sané wénten ring sajebag Bali. indiké punika kaketusang duaning seni sastra sané marupa lontar punika patut kapreténin, kalestariang mangda nénten usak, bubukan utawi ical, sumangdénnyané sida kaplajahin antuk para yowanané daging susastrane punika.
Muséumé puniki duk dumun marupa yayasan sané kawastanin “Kirtya Lefrink – Van der Tuuk” sané karaksain mangda nyaga seni susastra punika. F.A. Lefrink sané daweg pamrintah Belanda ring Bali pinaka Asistan Resident kala punika oneng pisan ring kabudayaan Bali, lan akéh sasuratan utawi reriptannyané indik Bali lan Lombok.
Dr. H.N Van der Tuuk pinaka sejarawan daweg punika ngicén tanah lan wangunannyané mangda kaanggén dados muséum sané mangkin kawastanin Muséum Gedong Kirtya. Wangunan muséumé puniki magenah ring wawidangan Sasana Budaya, sané dumun wantah Puri Raja Buléléng, ring margi Véteran, Singaraja. Ri kala punika Singaraja wantah ibukota Sunda Kecil.
Salah satu kenikmatan hidup yang paling kontroversial adalah seks. Seks mampu secara komparatif bersaing dengan kenikmatan lainnya seperti harta dan kekuasaan. Seks yang dulunya dibicarakan secara sembunyi-sembunyi, penuh mitos dan kadang sakral kini mulai makin terkuak terbahas. Seks kini mulai masuk kesumsum nadi kebutuhan manusia dan informasi tentangnya menjadi sorotan besar untuk dinikmati.
Apabila dipandang dari sisi biologis, seks dan hasrat pencapaiannya adalah sebuah fenomena yang wajar dan normal, tak ubahnya dengan fenomena perut lapar yang minta makan, atau keinginan mata untuk melihat sesuatu yang indah, baik dan cantik. Seks menjadikan banyak orang bahagia, seks juga menjadikan banyak orang sakit, sengsara bahkan terhinakan. Seks yang ditabukan membuat banyak orang buta mengartikannya, mereka hanya mengandalkan naluri saja, sementara nuraninya tertinggal. Seks yang seharusnya hanya menjadi konsumsi orang yang telah resmi berstatus suami istri, kini terjadi penyimpangan hingga bukan lagi menjadi suatu hal yang suci dan sakral serta berlandaskan agama. Tidaklah meherankan fenomena seks bebas kini mulai menghantui remaja generasi penerus bangsa. Kawula muda kini tidak lagi mentabukan seks, justru banyak diantara mereka yang gila seks. Fenomena ini justru menjadi semakin miris jika dibandingkan dengan seks jaman dulu. Akibat-akibat yang ditimbulkan dari seks bebas begitu banyaknya mulai dari penyakit yang ditimbulkan begitu banyak, aborsi, anak haram, AIDS, dll. Padahal seks bila dilihat dari dimensi sastra dan ilmu pengetahuan dan penyaluran nafsu yang benar, merupakan sebuah kebahagiaan di dunia yang begitu lengkap. Di dalamnya terkandung kasih sayang, terapi psikologis, keseimbangan emosional dan kesehatan. Untuk itu langkah pencegahan yang baik terhadap fenomena seks bebas adalah memberikan pengetahuan seks pada generasi muda dengan cara yang benar yaitu melalui pendekatan sastra maupun ilmu pengetahuan.
Di Bali ternyata dalam lontar-lontar kuna sudah diungkapkan berbagai dimensi seks, dari filasafatnya (tattwa), etikanya (susila) dan bahkan tuntunan seks yang praktis namun bisa menghantarkan pelakunya ke alam kepuasan tertinggi, tersaji luas dalam teks-teks Kama Tattwanya.
Berikut kita akan coba untuk membahas seks bernuansa Bali dengan roh kehinduan yang kuat. Sehingga kita bisa mengetahui pengetahuan seks secara dini namun dengan cara penyampaian yang benar berdasarkan sastra dan ilmu pengetahuan tujuan seks yang suci dapat kita capai.
Om Swastyastu ida dane para pamilet sareng sami. Rasa angayu bagia pisan sida malih kacunduk galahe mangkin sareng titiang i riki. Dumogi ja ida dane nenten wenten manah wadih jagi simpang mariki. Driki wantah genah titiang ngedum bagia, malila-cita ring jagat maya sareng ida dane para pamilet sinamian.
Ainggih, galahe mangkin titiang jagi ngalimbakang indik "Contoh Soal Ulangan Umum Bahasa Bali SD kelas 1 (satu) Semester II (dua)". Utamane ring sang maraga Guru Pangajian sane ngamong Mata Pelajaran Basa Bali, dumogi conto soal puniki prasida kanggen sasuluh lan tetimbang rikala ngaryanin soal ulangan umum sane katiba ring para sisyannyane ring sekolah. Punika taler ring para Guru Rupaka, sane meled ngarerehang conto soal, mangda wenten anggena malajah sareng alit-alit druene, rarisang macecingak i riki.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas :
Lokakarya (Inggris: workshop) adalah suatu acara di mana beberapa orang berkumpul untuk memecahkan masalah tertentu dan mencari solusinya. Sebuah lokakarya adalah pertemuan ilmiah yang kecil.
Menurut artikata.com, Lokakarya adalah pertemuan antara para ahli (pakar) untuk membahas masalah praktis atau yg bersangkutan dng pelaksanaan dl bidang keahliannya; sanggar kerja; ber-lo-ka-kar-ya (v) 'melakukan lokakarya'.
Bila dilihat keberadaannya, bahasa jawa Kuna merupakan salah satu rumpun bahasa Austronesia. Pengetahuan kita mengenai bahasa Jawa Kuna, sebagai titik awal diperkirakan tumbuh mulai pada abad IX dan berkembang subur selama enam abad, yakni sampai abad XV pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Diawali dengan ditemukannya prasasti yang memakai bahasa Jawa Kuna yang tertua (yang diketahu saat ini) yaitu prasasti Sukabumi di Jawa Timur. Prasasti ini berisi angka tahun 726 saka atau 804 masehi. Sebelum prasasti ini, hampir semua piagam yang ditemukan memakai bahasa Sansekerta. Oleh karena itu, maka prasasti Sukabumi dianggap sebagai tonggak sejarah yang mengawali bahasa Jawa Kuna.
Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu dialek temporal bahasa pribumi di Jawa. Bahasa ini sekarang hanya dapat ditemukan di dalam karya-karya tulis seperti terpakai dalam buku Ramayana, Adiparwa, Sutasoma, Bharatayuddha, Arjunawiwaha dan lainnya. Bahasa jawa Kuna dewasa ini dikatakan sebagai bahasa mati karena bahasa ini tidak dipakai lagi di dalam percakapan sehari-hari, serta tidak ditemuka penutur asli bahasa itu. Namun dalam kesusastraan, para punjangga masih menggunakan bahasa Jawa Kuna seperti terdapat dalam buku Nagarakretagama, Arjunawiwaha, Sutasoma, sampai buku kakawin Harisraya yang ber angka tahun 1496 saka atau 1574 masehi.
Di Bali, karya sastra masih berhubungan erat dengan masyarakat pendukungnya, terutama sekali pada zaman kerajaan, sastra menjadi dasar dan cermin tindakan para raja dalam mengemban masyarakat yang diayominya, dalam melaksanakan politik kerajaan serta tindakan-tindakan penting lainnya (Kanta, 1984 : 2, dalam Suarka, 1989: 1). Hingga kini di daerah-daerah pedesaan, pendukungnya masih berpedoman kepada karya sastra dalam melakukan tindakannya sehari-hari. Kesempatan semacam ini memungkinkan berkembangnya berbagai jenis karya sastra dengan beraneka macam isi, nilai-nilai, ajaran-ajaran, pola berpikir adat istiadat, dan lain-lainnya yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kehidupan bermasyarakat.
Salah satu ragam sastra yang hidup dan berkembang di masyarakat sampai saat ini adalah karya sastra sejarah. Karya sastra sejarah ialah salah satu bentuk karya seni yang memaparkan unsur-unsur histories dan geneologis lewat unsur-unsur kesastraan. Di Bali karya sastra sejarah hadir dalam berbagai bentuk, yakni dapat berbentuk kakawin, kidung, geguritan, babad. Dalam genre babad ini ini masih terdiri atas babad, usana, uwug (regreg, rusak), dan pamancangah.
(JURUSAN SASTRA DAERAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR)
2009
ABSTRAK
Penelitian mengenai “Substitusi Antarkalimat dalam Bahasa Bali” bertujuan untuk mengetahui keberadaan substitusi sebagai penanda hubungan antarkalimat dalam bahasa Bali. Penelitian ini mengambil data berupa wacana atau gugus kalimat. Wacana atau gugus kalimat tersebut terdiri atas beberapa kalimat yang merupakan satu kesatuan yang padu. Kesatuan wacana inilah ditandai dengan penanda hubungan antarkalimat.
Penelitian ini dilandasi oleh teori kohesi yang dicetuskan oleh Halliday dan Hasan dalam bukunya yang berjudul Cohesion in English (1976) dan dibantu dengan teori struktural yang dikemukakan oleh Verhaar (1981) dan teori van Dijk khususnya tentang sintaksis, kohesi dan koherensi.
Dalam tahap pengumpulan data digunakan metode simak, serta dibantu dengan teknik rekam dan catat. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode distribusional yang dalam pelaksanaannya dibantu dengan teknik substitusi dan teknik hubung banding, dan disajikan dengan menggunakan metode formal dan informal.
Substitusi sebagai penanda hubungan antarkalimat mempunyai ciri-ciri, yaitu: (1) dalam proses substitusi ditandai dengan adanya penggantian unsur terganti (UT) pada kalimat yang mendahului maupun pada kalimat yang mengikuti. Apabila UT-nya mendahului unsur pengganti (UP) disebut dengan substitusi letak kiri (anaforis). Apabila UT-nya mengikuti UP disebut dengan substitusi letak kanan (kataforis); (2) ada dua unsur yang terlibat yaitu UT dan UP; (3) hubungan UT dan UP bersifat stuktural; (4) UT dan UP-nya disamping harus berkoreferensi, juga harus sekategori; (5) dengan teknik substitusi, substitusi sebagai penanda hubungan antarkalimat dapat dibuktikan dengan mengembalikan UT kembali ke posisi UP tanpa menuntut kehadiran kata deiktik tertentu.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, substitusi sebagai penanda hubungan antarkalimat dalam bahasa Bali dapat ditinjau dari tiga segi. Pertama, dari segi fungsi sintaksis UT-nya ditemukan: substitusi S, substitusi P, substitusi O, dan substitusi K. Kedua, dari segi kategori sintaksis UT-nya ditemukan: substitusi nomina, dan substitusi verba. Substitusi nomina dibedakan lagi menjadi dua: substitusi nomina persona dan substitusi nomina bukan persona. Ketiga, dari segi bentuk UT-nya ditemukan: substitusi kata, substitusi frase, dan substitusi klausa.