Om Swastyastu
sahabat Duta Dharma, kembali bersama Blijul, Pande Kadek Juliana, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Tentunya dalam kisah-kisah heroik
Baratayudha, kisah inspirasi dari Itihasa dan Purana. Hari ini saya akan
mengajak umat sedharma untuk menyimak kisah Rsi Drona.
Resi Drona lahir dari keluarga brahmana yang sangat terpandang. Ayahnya adalah Resi Bharadwaja, salah satu dari tujuh resi agung (Sapta Resi).
Suatu hari, Resi
Bharadwaja pergi ke sungai Gangga untuk melakukan ritual penyucian diri. Di
sana, ia melihat seorang bidadari cantik bernama Gritachi yang sedang
mandi. Terpesona oleh kecantikannya, sang Resi tidak sengaja mengeluarkan benih
kehidupannya.
Karena tidak
ingin benih tersebut terbuang sia-sia, Resi Bharadwaja menampungnya ke dalam
sebuah bejana kayu yang disebut Drona. Dari dalam bejana itulah lahir
seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Drona, yang secara
harfiah berarti "Lahir dari Bejana".
Meskipun lahir
sebagai putra seorang resi, perjalanan hidup Drona penuh dengan kerja keras dan
perjuangan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Drona tumbuh
menjadi pemuda yang cerdas dan haus akan ilmu. Ia mendengar bahwa Ramaparasu
(Parasurama), seorang ksatria brahmana legendaris, akan membagikan seluruh
harta dan senjatanya sebelum pensiun ke gunung.
Namun, saat Drona
tiba, Parasurama sudah memberikan semua hartanya kepada para brahmana. Yang
tersisa hanyalah tubuhnya dan ilmu senjatanya. Drona dengan senang hati memilih
untuk mewarisi seluruh ilmu memanah dan rahasia senjata-senjata dewata
(Astra) dari Parasurama, yang menjadikannya salah satu ahli perang terbaik
di dunia.
Drona bersahabat
karib dengan Drupada, pangeran dari Kerajaan Panchala. Drupada berjanji
akan membagi setengah kerajaannya kepada Drona jika ia menjadi raja kelak.
Namun, ketika
Drupada naik takhta, ia justru menghina Drona yang datang dalam keadaan miskin.
Drupada mengatakan bahwa persahabatan hanya bisa terjalin di antara orang yang
sederajat. Sakit hati inilah yang memicu ambisi Drona untuk menjadi guru besar
agar bisa membalas dendam.
Drona kemudian
pergi ke Hastinapura. Di sana, ia menunjukkan kehebatannya di depan para
pangeran muda dengan mengambil bola yang jatuh ke sumur hanya dengan
menggunakan rumput yang disusun menjadi anak panah.
Terkesan dengan
kesaktiannya, Bisma mengangkat Drona menjadi guru resmi bagi 100 Kurawa
dan 5 Pandawa. Di bawah bimbingannya, lahir ksatria-ksatria hebat seperti Arjuna.
Karakteristik Resi Drona
- Ahli
Strategi: Ia dikenal karena formasi perangnya yang tak terkalahkan,
seperti Chakravyuha.
- Brahmana-Ksatria:
Meskipun seorang brahmana (pendeta), ia memiliki kemampuan bertarung yang
melampaui kaum ksatria.
- Sosok
Ayah: Ia sangat mencintai putranya, Aswatama, yang kelak
menjadi titik kelemahannya di perang Baratayuda.
Kisah akhir hayat Resi Drona di medan Kurukshetra adalah
salah satu momen paling dramatis dan kontroversial dalam Baratayuda.
Kematiannya membuktikan bahwa bahkan ksatria yang tak terkalahkan pun bisa
tumbang melalui siasat dan beban emosional.
Menjadi Panglima Tertinggi Kurawa
Setelah gugurnya Bisma pada hari ke-10, Resi Drona diangkat
menjadi Panglima Tertinggi pasukan Kurawa. Di bawah kepemimpinannya, pasukan
Pandawa kocar-kacir. Drona sangat sulit dikalahkan karena ia memiliki
senjata-senjata dewata dan dilindungi oleh martabatnya sebagai seorang Guru.
Siasat
"Aswatama Hata" (Aswatama Mati)
Pada hari ke-15
peperangan, Krishna menyadari bahwa selama Drona masih memegang senjata,
Pandawa tidak akan pernah menang. Satu-satunya cara untuk menjatuhkannya adalah
dengan menghancurkan semangat hidupnya, yaitu Aswatama, putra tunggal
yang sangat ia cintai.
- Kematian Gajah Aswatama: Atas saran Krishna, Bima membunuh
seekor gajah perang milik raja Malawa yang kebetulan bernama Aswatama.
- Berita
Bohong: Pasukan Pandawa kemudian bersorak-sorai meneriakkan, "Aswatama
mati!".
- Keraguan
Drona: Mendengar hal itu, Drona merasa hancur, namun ia tidak langsung
percaya. Ia tahu bahwa hanya satu orang yang tidak akan pernah berbohong: Yudistira.
Dilema Yudistira
Drona mendekati Yudistira dan bertanya apakah benar putranya
telah gugur. Yudistira, yang dikenal sangat jujur, merasa bimbang. Atas desakan
Krishna, Yudistira akhirnya menjawab:
"Aswatama hata... iti gajah." (Aswatama
mati... gajah itu.)
Yudistira mengucapkan kata "gajah itu"
dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik. Pada saat yang sama, Krishna
memerintahkan pasukan untuk meniup sangkakala dan menabuh genderang dengan
sangat keras sehingga Drona hanya mendengar kalimat bagian awal: "Aswatama
mati".
Gugurnya Sang Guru
Mendengar konfirmasi dari Yudistira, Drona kehilangan
seluruh gairah hidupnya. Ia melepaskan semua senjatanya, duduk bermeditasi di
atas kereta perangnya untuk melepaskan jiwanya menuju alam baka.
Pada saat itulah, Drestadyumna (putra Raja Drupada yang lahir dari api memang untuk membunuh Drona) berlari mendekat. Meskipun dilarang oleh Arjuna yang ingin gurunya diperlakukan dengan hormat, Drestadyumna yang penuh amarah langsung memenggal kepala Resi Drona.
Dampak Kematian Drona
Kematian Drona meninggalkan duka mendalam bagi kedua belah
pihak. Bagi Pandawa, itu adalah kemenangan yang pahit karena mereka harus
menggunakan tipu muslihat terhadap guru mereka sendiri. Bagi Kurawa, hilangnya
Drona adalah tanda bahwa kekalahan total sudah di depan mata.
Fakta Menarik: Konon, karena Yudistira melakukan
kebohongan (setengah jujur) tersebut, kereta perangnya yang biasanya melayang
beberapa inci di atas tanah, langsung menyentuh tanah untuk pertama kalinya.
Kisah Resi Drona dalam Mahabharata adalah salah satu cerita
yang paling kompleks karena ia bukan sosok hitam-putih. Ia adalah orang baik
yang terjebak dalam loyalitas yang salah dan dendam pribadi.
Berikut adalah beberapa pesan moral dan pelajaran hidup yang
bisa kita petik dari kisah hidupnya:
1. Bahaya Dendam dan Ego
Kehancuran Drona dimulai dari sakit hati karena dihina oleh
sahabatnya, Drupada. Meskipun ia seorang Brahmana yang seharusnya pemaaf, Drona
memilih memelihara dendam. Ia melatih Pandawa dan Kurawa dengan tujuan
terselubung: meminjam tangan mereka untuk menaklukkan Drupada.
- Pesan:
Dendam, sekecil apa pun, dapat membutakan orang yang paling bijaksana
sekalipun dan mengarahkannya pada jalur kekerasan.
2. Konsekuensi dari Loyalitas yang Salah
Drona tahu bahwa Kurawa berada di pihak yang salah (Adharma),
namun ia merasa berutang budi karena telah diberi jabatan, kekayaan, dan tempat
tinggal oleh Kerajaan Hastinapura. Ia memilih setia pada "pemberi
makan" daripada setia pada kebenaran.
- Pesan: Integritas dan kebenaran
harus diutamakan di atas rasa utang budi materi. Loyalitas kepada orang
yang jahat akan membuat kita ikut menanggung dosa mereka.
3.
Kasih Sayang Orang Tua yang Berlebihan (Mohas)
Kelemahan
terbesar Drona adalah cintanya yang buta kepada putranya, Aswatama. Demi
kebahagiaan dan posisi anaknya, ia rela berkompromi dengan prinsip-prinsip
moral. Inilah yang akhirnya digunakan Krishna untuk mengalahkannya.
- Pesan:
Kasih sayang yang berlebihan kepada keluarga dapat menjadi belenggu yang
menghalangi kita bertindak adil dan objektif.
4. Ilmu Pengetahuan Tanpa Karakter
Drona adalah guru terbaik, namun ia membeda-bedakan muridnya
dan terkadang bersikap tidak adil (seperti kasus Ekalaya, yang dipaksa
memotong jempolnya agar tidak melampaui Arjuna). Ia memiliki ilmu yang luar
biasa tinggi, tetapi ilmu itu digunakan untuk mengabdi pada pihak yang batil.
- Pesan:
Kecerdasan dan keahlian tinggi tidak ada gunanya jika tidak dibarengi
dengan karakter dan keberanian untuk membela keadilan.
5. Kejujuran adalah Fondasi Harga Diri
Momen jatuhnya Drona terjadi karena ia mempercayai
"kebohongan" dari orang yang dianggap paling jujur (Yudistira). Di
sisi lain, Yudistira sendiri harus menanggung beban moral seumur hidup karena
menyembunyikan kebenaran di balik kata-katanya.
- Pesan: Kebenaran adalah senjata yang paling kuat. Sekali kejujuran dikompromikan (seperti yang dilakukan Yudistira), maka kesucian jiwa seseorang akan ternoda.
Kisah Drona mengajarkan kita bahwa nasib seseorang
ditentukan oleh pilihan-pilihannya, bukan hanya oleh kehebatannya. Drona
hebat secara fisik dan intelektual, namun ia gagal dalam pilihan moralnya.
Matur Suksma sudah menyimak. Jangan lupa dukung chanel kami
untuk berkarya ke depan. Om Santih Santih Santih Om.
No comments:
Post a Comment
Wusan simpang, elingang komentarnyane ngih..! Ring colom FB ring sor taler dados. ^_^ sharing geguratane ring ajeng dados taler.