Teks Berjalan

Om Swastyastu, Sameton Sutha Abimanyu, Nyama Blijul ajak makejang.. Rahajeng rauh ring blog puniki, elingang follow ig @blijul_pande twitter @jul_pande Youtube: Blijul TV _ Om santih, santih, santih.

Thursday, January 15, 2026

KISAH RSI DRONA - LAHIR DARI BEJANA - RSI SAKTI - DIHIANATI TEMAN - GURU KORAWA DAN PANDAWA

Om Swastyastu sahabat Duta Dharma, kembali bersama Blijul, Pande Kadek Juliana, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Tentunya dalam kisah-kisah heroik Baratayudha, kisah inspirasi dari Itihasa dan Purana. Hari ini saya akan mengajak umat sedharma untuk menyimak kisah Rsi Drona.

Resi Drona lahir dari keluarga brahmana yang sangat terpandang. Ayahnya adalah Resi Bharadwaja, salah satu dari tujuh resi agung (Sapta Resi).

Suatu hari, Resi Bharadwaja pergi ke sungai Gangga untuk melakukan ritual penyucian diri. Di sana, ia melihat seorang bidadari cantik bernama Gritachi yang sedang mandi. Terpesona oleh kecantikannya, sang Resi tidak sengaja mengeluarkan benih kehidupannya.

Karena tidak ingin benih tersebut terbuang sia-sia, Resi Bharadwaja menampungnya ke dalam sebuah bejana kayu yang disebut Drona. Dari dalam bejana itulah lahir seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Drona, yang secara harfiah berarti "Lahir dari Bejana".

Meskipun lahir sebagai putra seorang resi, perjalanan hidup Drona penuh dengan kerja keras dan perjuangan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Drona tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan haus akan ilmu. Ia mendengar bahwa Ramaparasu (Parasurama), seorang ksatria brahmana legendaris, akan membagikan seluruh harta dan senjatanya sebelum pensiun ke gunung.

Namun, saat Drona tiba, Parasurama sudah memberikan semua hartanya kepada para brahmana. Yang tersisa hanyalah tubuhnya dan ilmu senjatanya. Drona dengan senang hati memilih untuk mewarisi seluruh ilmu memanah dan rahasia senjata-senjata dewata (Astra) dari Parasurama, yang menjadikannya salah satu ahli perang terbaik di dunia.

Drona bersahabat karib dengan Drupada, pangeran dari Kerajaan Panchala. Drupada berjanji akan membagi setengah kerajaannya kepada Drona jika ia menjadi raja kelak.

Namun, ketika Drupada naik takhta, ia justru menghina Drona yang datang dalam keadaan miskin. Drupada mengatakan bahwa persahabatan hanya bisa terjalin di antara orang yang sederajat. Sakit hati inilah yang memicu ambisi Drona untuk menjadi guru besar agar bisa membalas dendam.

Drona kemudian pergi ke Hastinapura. Di sana, ia menunjukkan kehebatannya di depan para pangeran muda dengan mengambil bola yang jatuh ke sumur hanya dengan menggunakan rumput yang disusun menjadi anak panah.

Terkesan dengan kesaktiannya, Bisma mengangkat Drona menjadi guru resmi bagi 100 Kurawa dan 5 Pandawa. Di bawah bimbingannya, lahir ksatria-ksatria hebat seperti Arjuna.

Karakteristik Resi Drona

  • Ahli Strategi: Ia dikenal karena formasi perangnya yang tak terkalahkan, seperti Chakravyuha.
  • Brahmana-Ksatria: Meskipun seorang brahmana (pendeta), ia memiliki kemampuan bertarung yang melampaui kaum ksatria.
  • Sosok Ayah: Ia sangat mencintai putranya, Aswatama, yang kelak menjadi titik kelemahannya di perang Baratayuda.

Kisah akhir hayat Resi Drona di medan Kurukshetra adalah salah satu momen paling dramatis dan kontroversial dalam Baratayuda. Kematiannya membuktikan bahwa bahkan ksatria yang tak terkalahkan pun bisa tumbang melalui siasat dan beban emosional.

Menjadi Panglima Tertinggi Kurawa

Setelah gugurnya Bisma pada hari ke-10, Resi Drona diangkat menjadi Panglima Tertinggi pasukan Kurawa. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Pandawa kocar-kacir. Drona sangat sulit dikalahkan karena ia memiliki senjata-senjata dewata dan dilindungi oleh martabatnya sebagai seorang Guru.

Siasat "Aswatama Hata" (Aswatama Mati)

Pada hari ke-15 peperangan, Krishna menyadari bahwa selama Drona masih memegang senjata, Pandawa tidak akan pernah menang. Satu-satunya cara untuk menjatuhkannya adalah dengan menghancurkan semangat hidupnya, yaitu Aswatama, putra tunggal yang sangat ia cintai.

  1. Kematian Gajah Aswatama: Atas saran Krishna, Bima membunuh seekor gajah perang milik raja Malawa yang kebetulan bernama Aswatama.
  2. Berita Bohong: Pasukan Pandawa kemudian bersorak-sorai meneriakkan, "Aswatama mati!".
  3. Keraguan Drona: Mendengar hal itu, Drona merasa hancur, namun ia tidak langsung percaya. Ia tahu bahwa hanya satu orang yang tidak akan pernah berbohong: Yudistira.

Dilema Yudistira

Drona mendekati Yudistira dan bertanya apakah benar putranya telah gugur. Yudistira, yang dikenal sangat jujur, merasa bimbang. Atas desakan Krishna, Yudistira akhirnya menjawab:

"Aswatama hata... iti gajah." (Aswatama mati... gajah itu.)

Yudistira mengucapkan kata "gajah itu" dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik. Pada saat yang sama, Krishna memerintahkan pasukan untuk meniup sangkakala dan menabuh genderang dengan sangat keras sehingga Drona hanya mendengar kalimat bagian awal: "Aswatama mati".

Gugurnya Sang Guru

Mendengar konfirmasi dari Yudistira, Drona kehilangan seluruh gairah hidupnya. Ia melepaskan semua senjatanya, duduk bermeditasi di atas kereta perangnya untuk melepaskan jiwanya menuju alam baka.

Pada saat itulah, Drestadyumna (putra Raja Drupada yang lahir dari api memang untuk membunuh Drona) berlari mendekat. Meskipun dilarang oleh Arjuna yang ingin gurunya diperlakukan dengan hormat, Drestadyumna yang penuh amarah langsung memenggal kepala Resi Drona.

Dampak Kematian Drona

Kematian Drona meninggalkan duka mendalam bagi kedua belah pihak. Bagi Pandawa, itu adalah kemenangan yang pahit karena mereka harus menggunakan tipu muslihat terhadap guru mereka sendiri. Bagi Kurawa, hilangnya Drona adalah tanda bahwa kekalahan total sudah di depan mata.

Fakta Menarik: Konon, karena Yudistira melakukan kebohongan (setengah jujur) tersebut, kereta perangnya yang biasanya melayang beberapa inci di atas tanah, langsung menyentuh tanah untuk pertama kalinya.

Kisah Resi Drona dalam Mahabharata adalah salah satu cerita yang paling kompleks karena ia bukan sosok hitam-putih. Ia adalah orang baik yang terjebak dalam loyalitas yang salah dan dendam pribadi.

Berikut adalah beberapa pesan moral dan pelajaran hidup yang bisa kita petik dari kisah hidupnya:

1. Bahaya Dendam dan Ego

Kehancuran Drona dimulai dari sakit hati karena dihina oleh sahabatnya, Drupada. Meskipun ia seorang Brahmana yang seharusnya pemaaf, Drona memilih memelihara dendam. Ia melatih Pandawa dan Kurawa dengan tujuan terselubung: meminjam tangan mereka untuk menaklukkan Drupada.

  • Pesan: Dendam, sekecil apa pun, dapat membutakan orang yang paling bijaksana sekalipun dan mengarahkannya pada jalur kekerasan.

2. Konsekuensi dari Loyalitas yang Salah

Drona tahu bahwa Kurawa berada di pihak yang salah (Adharma), namun ia merasa berutang budi karena telah diberi jabatan, kekayaan, dan tempat tinggal oleh Kerajaan Hastinapura. Ia memilih setia pada "pemberi makan" daripada setia pada kebenaran.

  • Pesan: Integritas dan kebenaran harus diutamakan di atas rasa utang budi materi. Loyalitas kepada orang yang jahat akan membuat kita ikut menanggung dosa mereka.

3. Kasih Sayang Orang Tua yang Berlebihan (Mohas)

Kelemahan terbesar Drona adalah cintanya yang buta kepada putranya, Aswatama. Demi kebahagiaan dan posisi anaknya, ia rela berkompromi dengan prinsip-prinsip moral. Inilah yang akhirnya digunakan Krishna untuk mengalahkannya.

  • Pesan: Kasih sayang yang berlebihan kepada keluarga dapat menjadi belenggu yang menghalangi kita bertindak adil dan objektif.

4. Ilmu Pengetahuan Tanpa Karakter

Drona adalah guru terbaik, namun ia membeda-bedakan muridnya dan terkadang bersikap tidak adil (seperti kasus Ekalaya, yang dipaksa memotong jempolnya agar tidak melampaui Arjuna). Ia memiliki ilmu yang luar biasa tinggi, tetapi ilmu itu digunakan untuk mengabdi pada pihak yang batil.

  • Pesan: Kecerdasan dan keahlian tinggi tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan karakter dan keberanian untuk membela keadilan.

5. Kejujuran adalah Fondasi Harga Diri

Momen jatuhnya Drona terjadi karena ia mempercayai "kebohongan" dari orang yang dianggap paling jujur (Yudistira). Di sisi lain, Yudistira sendiri harus menanggung beban moral seumur hidup karena menyembunyikan kebenaran di balik kata-katanya.

  • Pesan: Kebenaran adalah senjata yang paling kuat. Sekali kejujuran dikompromikan (seperti yang dilakukan Yudistira), maka kesucian jiwa seseorang akan ternoda.

Kisah Drona mengajarkan kita bahwa nasib seseorang ditentukan oleh pilihan-pilihannya, bukan hanya oleh kehebatannya. Drona hebat secara fisik dan intelektual, namun ia gagal dalam pilihan moralnya.

Matur Suksma sudah menyimak. Jangan lupa dukung chanel kami untuk berkarya ke depan. Om Santih Santih Santih Om.


No comments:

Post a Comment

Wusan simpang, elingang komentarnyane ngih..! Ring colom FB ring sor taler dados. ^_^ sharing geguratane ring ajeng dados taler.