SIWALATRI MALAM PENEBUSAN:
MENJEMPUT PENGAMPUNAN DI TITIK TERGELAP
Oleh :
Pande Kadek Juliana, S.S.
Penyuluh Agama Ahli Muda Kantor Kemenag Kota Kendari
Mimbar Agama Hindu RRI Pro 1 Kendari (14 Januari 2026)
osadhayah santih vanaspatayah santir visve devah santir
brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi
(Yayur Veda XXXVI. 17)
Terjemahan:
Om Hyang Widhi Yang Maha Kuasa, anugrahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta, semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami.
Ke Goa beli markisa
Di malam gelap sunyi terasa
Memuja Siwa leburkan dosa
Tengadahkan kepala biar tidak batuk
Kuatkan raga tahanlah kantuk
Hidup bahagia semoga tidak terpuruk
Jika kita menganggap Siwaratri adalah "tiket gratis" untuk berbuat dosa lalu dibersihkan di malam ini, maka kita telah keliru memahami ajaran Ida Sang Hyang Widhi. Siwaratri bukanlah alat manipulasi hukum Karmaphala.
"Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang śubhāśubhakarma, kuneng panentasakena ring śubhakarma juga ikangaśubhakarma phalaning dadi wwang" (Di antara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia).
1). Sosok Pemburu (Simbol Keterikatan Duniawi) Lubdaka adalah seorang pemburu, yang pekerjaannya adalah membunuh. Dalam filsafat Hindu, ini melambangkan manusia yang masih terikat pada Himsa Karma (menyakiti sesama) dan dikendalikan oleh keinginan-keinginan rendah. Kita semua adalah "pemburu" di dunia ini—memburu harta, memburu jabatan, dan memburu pengakuan, yang seringkali tanpa sadar melukai makhluk lain.
Setelah kita memahami kegelapan alam dan simbolisme Lubdaka, pertanyaan besar muncul: Bagaimana cara kita menjemput pengampunan itu? Jawabannya terletak pada Tiga Brata Siwaratri. Namun, mari kita lihat lebih dalam; ini bukan sekadar soal perut yang kosong atau mata yang melek, melainkan sebuah latihan disiplin mental yang radikal.
1). Upawasa (Bukan Sekadar Menahan Lapar)
Secara fisik, kita tidak makan dan minum. Namun secara mental, Upawasa berasal dari kata Upa (dekat) dan Wasa (Tuhan).
- Upawasa adalah latihan
untuk berkata "tidak" pada keinginan indra. Jika hari ini kita
mampu mengendalikan keinginan untuk makan, maka besok kita harus mampu
mengendalikan keinginan untuk marah, keinginan untuk serakah, dan
keinginan untuk menyakiti. Kita sedang melatih
otot pengendalian diri (Indriya Nigraha).
Secara fisik, kita tidak berbicara. Namun secara mental, ini adalah penyucian kata-kata.
- Dalam keheningan, kita dipaksa untuk mendengarkan "suara-suara" di dalam pikiran kita sendiri. Seringkali, pikiran kita lebih berisik daripada mulut kita. Monobrata melatih kita untuk mengamati pikiran, membuang sampah-sampah batin seperti dendam dan iri hati, serta mulai mengisi ruang kosong itu dengan Japa atau pengulangan nama suci Tuhan.
Secara fisik, kita tidak tidur semalam suntuk. Namun secara mental, inilah puncak dari segala brata.
- Jagara artinya Sadar. Apa gunanya mata terbuka
jika kesadaran kita tertidur? Apa gunanya melek semalam suntuk jika
pikiran kita melantur ke hal-hal yang tidak berguna? Jagara adalah
latihan untuk tetap waspada (Eling) terhadap setiap tarikan napas
dan setiap pergerakan pikiran agar tetap berada pada jalur Dharma.
Kini kita sampai pada bagian yang paling menentukan. Fajar akan segera menyingsing, dan ritual Jagara kita akan segera berakhir secara fisik. Namun, muncul sebuah tanggung jawab baru: "Setelah malam ini usai, apa yang kita bawa pulang?"
1). Pengampunan sebagai Transformasi, Bukan Transaksi Kembali ke pertanyaan awal kita: Benarkah dosa lebur? Ketahuilah, Tuhan tidak sedang berdagang dengan kita. Dosa lebur bukan karena kita telah "membayarnya" dengan begadang semalam, melainkan karena diri kita yang lama—yang penuh dosa itu—telah mati dan digantikan oleh diri baru yang lebih sadar. Pengampunan adalah hasil dari komitmen kita untuk tidak melangkah lagi ke lubang kegelapan yang sama.
Umat se-Dharma yang berbahagia tiba kita di penghujung mimbar malam ini, Sebagai penutup mimbar ini, mari kita camkan bersama: "Siwaratri adalah malam untuk bercermin. Kita melihat betapa gelapnya diri kita, lalu kita memohon cahaya-Nya. Namun ingatlah, pengampunan sejati tidak tertulis di atas kertas ritual, melainkan tertulis dalam perubahan perilaku kita setelah mendengar pesan dharma ini. Jangan biarkan Lubdaka di dalam diri kita kembali berburu dosa setelah fajar tiba."
Gadis Bali berkebaya
Berjalan melambai memikat daya
Meninggalkan sifat yang penuh maya
Menuju jalan dharma yang jaya
Om Santih, Santih, Santih, Om.
No comments:
Post a Comment
Wusan simpang, elingang komentarnyane ngih..! Ring colom FB ring sor taler dados. ^_^ sharing geguratane ring ajeng dados taler.