Teks Berjalan

Om Swastyastu, Sameton Sutha Abimanyu, Nyama Blijul ajak makejang.. Rahajeng rauh ring blog puniki, elingang follow ig @blijul_pande twitter @jul_pande Youtube: Blijul TV _ Om santih, santih, santih.

Friday, January 16, 2026

SIWALATRI MALAM PENEBUSAN: MENJEMPUT PENGAMPUNAN DI TITIK TERGELAP

SIWALATRI MALAM PENEBUSAN: MENJEMPUT PENGAMPUNAN DI TITIK TERGELAP
Oleh :
Pande Kadek Juliana, S.S.
Penyuluh Agama Ahli Muda Kantor Kemenag Kota Kendari
Mimbar Agama Hindu RRI Pro 1 Kendari (14 Januari 2026)
 
Om Swastyastu, Om Awighnamastu Namo Siddham, Om Anobadrah Krtavo yanthu Visvatah, Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru. Umat sedharma mari kita lantunkan santih mantram sebelum memulai mimbar agama kali ini, ambil sikap amustikarana.

Om dyauh santir antariksam santih prthivi santir apah santir
osadhayah santih vanaspatayah santir visve devah santir
brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi
(Yayur Veda XXXVI. 17)
Terjemahan:
Om Hyang Widhi Yang Maha Kuasa, anugrahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta, semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami.
 
Pendengar RRI Pro 1 Kendari di mana pun berada, Angayubagia sih Hyang Widhi Wasa, kita berjumpa kembali dalam ruang dengar saudara dalam acara Mimbar Agama Hindu RRI Pro 1 Kendari, kerjasama dengan Badan Penyiaran Hindu dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara.
 
Bersama Blijul, Pande Kadek Juliana, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Kendari. Semoga para pendengar semuanya kami jumpai dalam keadaan sehat dan bahagia. Mimbar Agama Hindu kali ini, Blijul akan mengajak Umat sedharma mendengarkan wejangan tentang perayaan Ciwalatri, “Malam Penebusan: Menjemput Pengampunan di Titik Tergelap.” Benarkah dosa bisa lebur hanya dengan satu malam pemujaan, ataukah Siwaratri sebenarnya adalah sebuah komitmen untuk tidak mengulangi kegelapan yang sama?
 
Namun, Sebelum kita mulai mimbar agama Hindu hari ini, seperti biasa Blijul awali dengan dua bait pantun:
 
Ke sidrap beli pepaya
Ke Goa beli markisa
Di malam gelap sunyi terasa
Memuja Siwa leburkan dosa
 
Olahraga sehat kaki ditekuk
Tengadahkan kepala biar tidak batuk
Kuatkan raga tahanlah kantuk
Hidup bahagia semoga tidak terpuruk
 
Umat Hindu, pendengar RRI Pro 1 Kendari yang berbahagia. Dalam  mimbar ini saya a kan mengajak umat sedharma membahas tema siwalatri ini dari beberapa alur, pertama bagaimana fenomena malam Purwaning Tilem ke-Pitu sebagai malam paling gelap? Kedua, Bagaimana kita memahami kisah Lubdaka bukan hanya sebagai dongeng belaka! Ketiga, Bagaimana memahami 3 brata utama siwalatri sebagai latihan disiplin mental, bukan sekadar fisik. Keempat, bahwa setelah malam Siwaratri berakhir, "terangnya" harus dibawa ke kehidupan sehari-hari.
 
Ajaran Siwaratri bersumber dari empat purana, yakni Skanda Purana, Garuda Purana, Siwa Purana dan Padma Purana. Skanda Purana bagian Kedarakanda menceritakan percakapan Lomasa dengan para Rsi, mengenai kejahatan Canda yang membunuh segala mahluk bahkan brahmana, namun akhirnya sadar tentang kebenaran melalui ajaran Siwaratri.
 
Garuda Purana bagian Acarakanda menceritakan jawaban Siwa atas pertanyaan Dewi Parwati bahwa ajaran Siwaratri adalah utama agar roh terbebas dari hukuman neraka. Siwa Purana bagian Jnanasamhita menceritakan percakapan Suta dengan para Rsi tentang Siwaratri dan kekejaman Rurudruha yang menjadi sadar setelah melaksanakan ajaran Siwaratri.
 
Padma Purana bagian Uttarakanda memuat percakapan Raja Dilipa dengan Wasista. Wasista menceritakan bahwa Siwaratri adalah wrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Salah satu Padma Purana yang populer dalam pelaksanaan Siwaratri di Bali adalah Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Siwaratri Kalpa adalah kekawin yang terdiri dari 20 wirama dan 232 bait, merupakan untaian narasi yang sarat makna dengan nuansa estetis.
 
1. Umat se-dharma yang berbahagia, mari kita awali pembahasan kita pada alur berpikir pertama. Bagaimana fenomena malam Purwaning Tilem ke-Pitu sebagai malam paling gelap?
 
Di malam yang paling gelap ini, pada Purwaning Tilem ke-Pitu, kita berkumpul bukan untuk sekadar melawan kantuk, melainkan untuk menjemput cahaya di tengah kegelapan jiwa.
 
Mungkin kita bertanya, mengapa Siwaratri jatuh pada malam ini? Purwaning Tilem Sasih Kapitu bukanlah malam sembarangan. Secara alamiah, inilah malam di mana jagat raya mencapai titik kegelapan yang paling pekat. Langit kehilangan cahaya bulannya, dan bumi seolah kehilangan pegangannya. Pada malam ke-pitu ini, dipercayai bahwa kekuatan negatif atau energi Tamas (lamban/gelap) berada pada puncaknya. Jika kita tidak waspada, pikiran manusia akan mudah terseret ke dalam kegelapan tersebut. Oleh karena itu, umat Hindu justru memilih malam yang paling gelap ini untuk menyalakan "pelita batin" agar tidak ikut terlarut dalam kegelapan alam.
 
Namun, di sinilah letak kecerdasan spiritual leluhur kita. Justru di titik paling gelap inilah, pintu pengampunan dibuka selebar-lebarnya. Mengapa? Karena hanya dalam kegelapan yang total, kita bisa melihat cahaya sekecil apa pun dengan sangat jelas. Kegelapan luar yang kita saksikan malam ini sebenarnya adalah cermin dari kegelapan batin kita—Awidya—yang selama ini menutupi jati diri kita yang asli."
 
Seringkali muncul pertanyaan di benak kita: "Hanya dengan satu malam terjaga, benarkah ribuan dosa yang kita tumpuk bertahun-tahun bisa lebur begitu saja?"
Jika kita menganggap Siwaratri adalah "tiket gratis" untuk berbuat dosa lalu dibersihkan di malam ini, maka kita telah keliru memahami ajaran Ida Sang Hyang Widhi. Siwaratri bukanlah alat manipulasi hukum Karmaphala.
 
Dalam kitab Sarascamuscaya Sloka 2, disebutkan:
"Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang śubhāśubhakarma, kuneng panentasakena ring śubhakarma juga ikangaśubhakarma phalaning dadi wwang" (Di antara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia).
 
Perbuatan baik dan buruk tidak terpisahkan dalam diri manusia, maka kita sebagai manusia, mahkluk berpikir, wajib menggunakan pikiran kita untuk mengarahkan kepada hal-hal baik. Perbuatan baik, perkataan baik dan pikiran baik. Karena jika kita salah berbuat, dengan berbuat buruk maka dosalah yang akan kita terima, dan dalam Sarasamuscaya Sloka 5 disampaikan Adalah orang yang tidak mau melakukan perbuatan baik, (orang semacam itu) dianggap sebagai penyakit yang menjadi obat neraka-loka; apabila ia meninggal dunia, maka ia dianggap sebagai orang sakit yang pergi ke suatu tempat di mana tidak ada obat-obatan; kenyataannya ia selalu tidak dapat memperoleh kesenangan dalam segala perbuatannya. Maka jelas, perbuatan buruk akan tetap mendapatkan pahala buruk di kemudian hari.
 
Siwaratri adalah titik balik. Kegelapan malam ini melambangkan Awidya (kegelapan pikiran). Saat kita melaksanakan Jagra (terjaga), kita sebenarnya sedang melakukan simulasi kesadaran agar jiwa kita tidak terus-menerus tertidur dalam dosa.
 
Umat Hindu dimana pun berada, hari Siwaratri jatuh setiap setahun sekali berdasarkan kalender Isaka yaitu pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu sebelum bulan mati atau tilem, dalam kalender Masehi setiap bulan Januari. Siwaratri memiliki makna khusus bagi umat Hindu, karena pada saat tersebut Hyang Siwa beryoga, sehingga menjadi hari baik bagi umat untuk melakukan brata semadi berikut kegiatan penyucian dan perenungan diri serta melakukan pemujaan kepada Sanghyang Siwa.
 
Makna hari raya Siwaratri berarti melebur kegelapan untuk menuju ke jalan terang. Sesungguhnya makna hari raya Siwaratri adalah malam perenungan suci, malam di  mana kita bisa mengevaluasi dan introspeksi diri atas perbuatan atau dosa selama ini baik disengaja maupun tidak disengaja, sehingga pada malam Siwaratri kita memohon kepada Sanghyang Siwa yang sedang melakukan payogan agar diberikan tuntunan bisa keluar dari perbuatan dosa. Pada saat malam Siwaratri umat melakukan pendekatan spiritual kepada Sanghyang Siwa, untuk menyatukan atman dengan paramatman.
 
Tidak sedikit masyarakat yang memaknai malam Siwaratri juga dianggap sebagai malam peleburan dosa, sehingga perbuatan dosa manusia bisa lebur dengan melakukan brata semadi dan pemujaan terhadap Sanghyang Siwa. Pemaknaan seperti ini tidak lepas dari kisah Lubdaka yang ditulis Empu Tanakung dalam Siwalatri Kalpa, kitab yang ditulis di lontar tersebut mengisahkan kehidupan seorang pemburu binatang yang memiliki banyak dosa karena membunuh binatang yang tidak bersalah.
 
Apa yang dimaknai dalam perayaan hari Siwaratri menurut kisah Lubdaka tentunya akan berlawanan dengan hukum karma phala bagi umat Hindu . “Karena apapun perbuatan kita baik atau buruk, maka hasil atau akibatnya akan sama, karena hukum karma phala tersebut akan terus berlaku, tidak hanya berlaku pada kehidupan ini tetapi di akhirat dan juga kehidupan kita mendatang.
 
Di lontar Kakawin Siwalatri Kalpa yang ditulis Mpu Tanakung yakni siksaan yang sempat dialami Lubdaka ketika dihukum pasukan cikrabala, yaitu abdi Dewa Yama sebagai dewa keadilan, berakhir dengan segera! Karena dianggap telah melakukan peleburan dosa dan menyadari segala dosa-dosanya dan tidak melakukannya lagi. Yang sesungguhnya tidak sesederhana itu memaknai kisah ini, makanya dalam pembukaan Kakawin Siwalatri Kalpa itu, Mpu Tanakung menyapa kita dengan kalimat indah, “wruh ngwang nisphala ning mango jenek alanglang I kalangen ikang pasir wukir” aku tahu, percuma saja menikmati keindahan, jika hanya melanglang buana lalu terpesona menikmati keindahan pemandangan pasir-gunung"
 
Analog dengan wacana itu Mpu Tanakung menyapa kita bahwa, "Percuma saja kita menikmati kekawin Siwaratri, jika hanya mempesona menikmati lapis-lapis kulitnya saja berupa wirama, jalan ceritra, dan permainan bunyi, permainan kata-kata yang membangun kekawin itu tanpa berusaha menyimak makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Pernyataan yang dalam, dan memang benar banyak di atara kita yang bersikap demikian.
 
Umat sedharma, Hari Siwaratri dianggap penting bagi umat untuk mendapatkan pencerahan, diberikan jalan yang benar untuk bisa mengakhiri perbuatan dosa dan bertobat, serta dengan harapan dapat melebur dosa dengan memuja Dewa Siwa.
 
Brata Siwaratri dilaksanakan pada hari raya Siwaratri dengan beberapa tingkatan sesuai kemampuan, yakni Utama dengan melakukan Jagra yaitu tidak tidur, Upawasa yaitu tidak makan dan minum, Monabrata yaitu berdiam diri dan tidak berbicara. Madhya yakni melakukan Jagra yaitu tidak tidur, Upawasa yaitu tidak makan dan minum. Nista yakni hanya melakukan Jagra yaitu tidak tidur. Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, tentunya melakukan persembahyangan terlebih dahulu,
 
Dalam Bhagavadgita Adyaya III, sloka 41, menyebutkan: kendalikanlah pañca indriamu dan basmilah nafsu yang penuh dosa, perusak segala pengetahuan dan kebijakan. Panca indriya inilah yang dikendalikan melalui ketiga brata saat melaksanakan Siwaratri yakni dengan memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kebijakan dan kesadran agar terhindar dari pikiran gelap, jadi Siwaratri adalah malam peningkatan kesadaran atau malam pejagraan perenungan.
 
Siwaratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranam pada Siwa, yakni   selalu mengingat dan memuja nama Siwa yang memiliki kekuatan melenyapkan kegelapan bathin, oleh karena itu Siwaratri menjelang tilem kepitu dilangsungkan upacara Maha Siwaratri, dengan melakukan Siwaratri berarti telah melakukan Sanca dan Dyana. Sanca merujuk pada praktik melakukan japa (pengulangan mantra) sambil membersihkan tubuh secara fisik dan spiritual, seperti disebutkan dalam Lontar Wrhaspati Tattwa: "Sanca Ngaranya Netya Majapa Maradina Sarira." Sedangkan Dyana, adalah meditasi atau perenungan yang berfokus pada pengingatan terus-menerus terhadap Hyang Siwa, sebagaimana dijelaskan dalam Sarasamuccaya: "Dhyana Ngaranya Ikang Siwasmarana." Ini melibatkan konsentrasi mendalam untuk menyatukan pikiran dengan yang ilahi.
 
2. Kita lanjutkan dalam alur berfikir kedua ini, Bagaimana kita memahami kisah Lubdaka bukan hanya sebagai dongeng belaka!
 
Kita akan membedah Kisah Lubdaka menggunakan kacamata semiotik (simbolisme). Tujuannya adalah agar umat tidak lagi melihat cerita ini sebagai "keberuntungan seorang pemburu", melainkan sebagai peta perjalanan jiwa setiap manusia.
 
Umat se-dharma, seringkali kita mendengar kisah Lubdaka hanya sebagai cerita seorang pemburu yang masuk surga karena "kebetulan" menjatuhkan daun bila di atas Lingga. Namun, jika kita berhenti pada pemahaman itu, kita kehilangan mutiara kebijaksanaannya. Lubdaka bukanlah sekadar tokoh dongeng; Lubdaka adalah representasi dari kita semua.
 
Mari kita bedah simbolisme di balik perjalanan Lubdaka:
1). Sosok Pemburu (Simbol Keterikatan Duniawi) Lubdaka adalah seorang pemburu, yang pekerjaannya adalah membunuh. Dalam filsafat Hindu, ini melambangkan manusia yang masih terikat pada Himsa Karma (menyakiti sesama) dan dikendalikan oleh keinginan-keinginan rendah. Kita semua adalah "pemburu" di dunia ini—memburu harta, memburu jabatan, dan memburu pengakuan, yang seringkali tanpa sadar melukai makhluk lain.
2). Tersesat di Hutan (Simbol Kebingungan Hidup) Hutan yang gelap tempat Lubdaka tersesat adalah simbol dari Samsara atau dunia yang penuh tipu daya. Ada saatnya dalam hidup, kita merasa "tersesat" secara spiritual. Kita merasa hampa meskipun memiliki segalanya. Kegelapan hutan itu adalah kegelapan pikiran kita sendiri yang kehilangan arah.
3). Memanjat Pohon Bila (Simbol Upaya Spiritual) Ketika Lubdaka merasa terancam oleh binatang buas, ia memanjat pohon Bila. Binatang buas adalah simbol dari dosa-dosa masa lalu dan nafsu yang siap menerkam. Memanjat pohon adalah simbol Upasasana—upaya manusia untuk naik ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi, meninggalkan insting rendah menuju perlindungan Tuhan.
4). Memetik Daun Bila (Simbol Penyesalan/Penyucian) Setiap helai daun yang jatuh mengenai Lingga Siwa adalah simbol dari tetesan penyesalan dan pembersihan pikiran. Lubdaka melakukannya agar tidak tertidur (tetap terjaga). Ini bermakna bahwa dalam kesunyian malam, ketika kita merenung, satu per satu lapisan ego kita harus dilepaskan agar kita bisa bersentuhan dengan Sang Atman.
 
Pesan Inti kisah Lubdaka ini "Lubdaka masuk surga bukan karena ia beruntung, melainkan karena ia memilih untuk terjaga di titik paling kritis dalam hidupnya. Kisah ini mengajarkan bahwa tidak peduli seberapa gelap masa lalu seseorang, jalan menuju cahaya selalu terbuka bagi mereka yang memilih untuk bangun (sadar) dari tidurnya."
 
"Pertanyaan untuk direnungkan kita bersama. Jika malam ini adalah malam terakhir kita di hutan dunia yang gelap ini, apakah kita akan memilih untuk tertidur dalam dosa, atau memanjat pohon kesadaran seperti Lubdaka?"
 
3. Pendengar RRI Pro 1 Kendari, kita lanjutkan ke alur pikir kita yang ketiga, Bagaimana memahami 3 brata utama siwalatri sebagai latihan disiplin mental, bukan sekadar fisik? Pada alur ketiga ini, kita akan masuk ke bagian yang paling praktis namun mendalam. Tujuannya adalah menggeser pandangan umat dari "beban fisik" menjadi "transformasi mental".
 
Umat se-dharma yang saya muliakan,
Setelah kita memahami kegelapan alam dan simbolisme Lubdaka, pertanyaan besar muncul: Bagaimana cara kita menjemput pengampunan itu? Jawabannya terletak pada Tiga Brata Siwaratri. Namun, mari kita lihat lebih dalam; ini bukan sekadar soal perut yang kosong atau mata yang melek, melainkan sebuah latihan disiplin mental yang radikal.
1). Upawasa (Bukan Sekadar Menahan Lapar)
Secara fisik, kita tidak makan dan minum. Namun secara mental, Upawasa berasal dari kata Upa (dekat) dan Wasa (Tuhan).
  • Upawasa adalah latihan untuk berkata "tidak" pada keinginan indra. Jika hari ini kita mampu mengendalikan keinginan untuk makan, maka besok kita harus mampu mengendalikan keinginan untuk marah, keinginan untuk serakah, dan keinginan untuk menyakiti. Kita sedang melatih otot pengendalian diri (Indriya Nigraha).
2). Monobrata (Bukan Sekadar Diam/Bisu)
Secara fisik, kita tidak berbicara. Namun secara mental, ini adalah penyucian kata-kata.
  • Dalam keheningan, kita dipaksa untuk mendengarkan "suara-suara" di dalam pikiran kita sendiri. Seringkali, pikiran kita lebih berisik daripada mulut kita. Monobrata melatih kita untuk mengamati pikiran, membuang sampah-sampah batin seperti dendam dan iri hati, serta mulai mengisi ruang kosong itu dengan Japa atau pengulangan nama suci Tuhan.
3). Jagra (Bukan Sekadar Begadang)
Secara fisik, kita tidak tidur semalam suntuk. Namun secara mental, inilah puncak dari segala brata.
  • Jagara artinya Sadar. Apa gunanya mata terbuka jika kesadaran kita tertidur? Apa gunanya melek semalam suntuk jika pikiran kita melantur ke hal-hal yang tidak berguna? Jagara adalah latihan untuk tetap waspada (Eling) terhadap setiap tarikan napas dan setiap pergerakan pikiran agar tetap berada pada jalur Dharma.
 
"Ibu, Bapak, dan saudara se-dharma, jika malam ini kita hanya menahan lapar namun tetap mencaci orang lain, maka itu bukan Upawasa, itu hanya diet yang sia-sia. Jika kita terjaga semalam suntuk namun hanya diisi dengan bermain gawai atau bergosip, itu bukan Jagara, itu hanya memindahkan waktu tidur.
 
Tiga Brata ini adalah 'kamp pelatihan' bagi jiwa. Kita sedang mencuci batin kita. Pengampunan Tuhan hanya akan mengisi 'gelas batin' yang sudah dibersihkan melalui disiplin ini."
 
4. Pendengar RRI Pro 1 Kendari, saya lanjutkan ke alur pikir kita yang keempat. Bahwa setelah malam Siwaratri berakhir, "terangnya" harus dibawa ke kehidupan sehari-hari.
 
Umat se-dharma yang saya muliakan,
Kini kita sampai pada bagian yang paling menentukan. Fajar akan segera menyingsing, dan ritual Jagara kita akan segera berakhir secara fisik. Namun, muncul sebuah tanggung jawab baru: "Setelah malam ini usai, apa yang kita bawa pulang?"
 
Jika cahaya lilin yang kita nyalakan di depan altar padam, jangan biarkan cahaya kesadaran di dalam hati ikut padam. Terangnya Siwaratri harus memanifestasikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari melalui tiga hal:
1). Pengampunan sebagai Transformasi, Bukan Transaksi Kembali ke pertanyaan awal kita: Benarkah dosa lebur? Ketahuilah, Tuhan tidak sedang berdagang dengan kita. Dosa lebur bukan karena kita telah "membayarnya" dengan begadang semalam, melainkan karena diri kita yang lama—yang penuh dosa itu—telah mati dan digantikan oleh diri baru yang lebih sadar. Pengampunan adalah hasil dari komitmen kita untuk tidak melangkah lagi ke lubang kegelapan yang sama.
2). Membawa Upasana ke dalam Kerja Disiplin mental yang kita latih semalam (menahan diri, menjaga ucapan, dan tetap waspada) harus menjadi standar baru kita dalam bekerja dan berkeluarga. Jika semalam kita bisa bersabar menahan kantuk demi Tuhan, maka mulai besok kita harus bisa bersabar menghadapi tantangan hidup demi Dharma.
3). Menjadi Pelita bagi Sesama Dunia di luar sana seringkali lebih gelap daripada malam Sasih Kapitu. Banyak orang tersesat dalam kebencian, hoax, dan keputusasaan. Tugas kita yang telah melaksanakan Siwaratri adalah menjadi "pelita kecil" di lingkungan kita. Bawalah kedamaian yang Anda rasakan malam ini ke meja makan di rumah Anda, ke kantor Anda, dan ke masyarakat.
 
Penutup 
Umat se-Dharma yang berbahagia tiba kita di penghujung mimbar malam ini, Sebagai penutup mimbar ini, mari kita camkan bersama: "Siwaratri adalah malam untuk bercermin. Kita melihat betapa gelapnya diri kita, lalu kita memohon cahaya-Nya. Namun ingatlah, pengampunan sejati tidak tertulis di atas kertas ritual, melainkan tertulis dalam perubahan perilaku kita setelah mendengar pesan dharma ini. Jangan biarkan Lubdaka di dalam diri kita kembali berburu dosa setelah fajar tiba."
 
Berjumpa kembali dalam mimbar agama Hindu berikutnya, tetap sehat dan selalu tebarkan senyum di mana pun anda berada. Saya tutup dengan sebait pantun.
Gadis Bali berkebaya
Berjalan melambai memikat daya
Meninggalkan sifat yang penuh maya
Menuju jalan dharma yang jaya
 
Mari kita akhiri dengan doa, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud-Nya sebagai Siwa Mahadewa, senantiasa menuntun kita dari kegelapan menuju cahaya, dari ketidaktahuan menuju kesadaran.
 
Om Asato Ma Sadgamaya (Tuhan, tuntunlah kami dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar) Tamaso Ma Jyotir Gamaya (Tuntunlah kami dari kegelapan menuju cahaya-Mu yang terang) Mrityor Ma Amritam Gamaya (Tuntunlah kami dari kematian menuju kekekalan)
Om Santih, Santih, Santih, Om.

No comments:

Post a Comment

Wusan simpang, elingang komentarnyane ngih..! Ring colom FB ring sor taler dados. ^_^ sharing geguratane ring ajeng dados taler.